Bandung Lautan Air, Mengapa bisa?

akses-jalan-terendam-banjir-di-baleendah-kabupaten-bandung-_140303152708-574
sumber gambar: republika.co.id

Bahasan paling renyah di penghujung tahun tentu saja banjir. Nampaknya memang peristiwa tersebut berulang-ulang terjadi di banyak tempat di Indonesia namun persoalannya hingga kini masyarakat Indonesia masih saja belum dapat dikatakan sebagai masyarakat yang sadar banjir. Banjir tahun kemarin tak juga menjadi bahan pelajaran bagi persiapan mengahdapi banjir selanjutnya. Banjir datang, ramai stasiun televisi memberitakan,  surut, kemudian masyarakat lupa, kemudian banjir datang kembali, masyarakat hanya melakukan apa yang juga dilakukan di tahun sebelumnya. Begitu berputar berulang ulang di banyak tempat di Indonesia.

“:D Hmm makanya jangan buang sampah sembarangan kalau sudah banjir bingung kaan”

“:) Tunggu dulu kang, belum tentu banjir itu disebabkan oleh sosiohidraulik atau kebiasaan budaya masyarakat dalam berinteraksi dengan sungai.”

Banyak hal yang menjadi penyebab banjir, tak adil rasanya kalau menggeneralisasi hanya menyalahkan kebiasaan buruk masyarakat buang sampah di Sungai. Untuk banyak tempat mungkin memang betul, sampah menggunung menyebabkan air tak dapat mengalir lancar ke Hilir melalui alur sungai dan kemudian meluap menggenangi permukiman danlingkungan. Tapi di tempat- tempat lain bisa jadi mekanismenya sedikit berbeda. Yang cukup menarik sesungguhnya adalah bencana banjir yang terjadi di bandung.

Cukup mengherankan sesunggunya bandung yang berada di daerah tinggi dapat terjadi banjir dengan kerugian yang besar. Banjir merendam 7030 rumah di Bandung selatan. Menurut Kepala harian BPBD Kab. Bandung “Hingga saat ini, jumlah pengungsi bertambah menjadi 12 ribu jiwa yang disebar ke beberapa titik pengungsian,”.

Bandung sesungguhnya kota/kabupaten dengan elevasi yang cukup tinggi yakni rata-rata berada di +- 768 m diatas permukaan laut. Umumnya di sebelah utara kota bandung memiliki elevasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sisi selatan yakni rata rata 1050 mdpl sementara di bagian selatan rata-rata 650 mdpl.

Mengapa Bandung bisa Banjir?

Banjir tak hanya terjadi di Dataran rendah

Mari kita perhatikan gambar dibawah. Gambar tersebut menunjukkan kenampakkan kota Bandung dan Sekitarnya. Kalau diprhatikan kita akan menemukan bahwa morfologi  bandung Nampak seperti daerah landai bahkan cenderung datar yang dikelilingi pegunungan. Topografi semacam ini yang sering kita sebut sebagai basin (cekungan).

Cekungan bandung
Cekungan bandung

Air pada dasarnya akan mengalir cepat jika berada di tempat dengan kemiringan curam. Ketika daerah melandai kecepatan aliran air akan berkurang. Pada tempat semacam inilah genangan yang dapat terjadi. Jika tanah telah jenuh dan tak dapat lagi meresapkan air, sementara hujan masih terjadi tak dapat dihindari  cekungan bandung akan terisi air layaknya bak raksasa. Dari riset geologi cekungan Bandung ini bahkan batuan dasarnya diperkirakan berasal dari pengendapan sebuah danau.

Ya, sebuah danau, Bandung selatan ini dahulu adalah sebuah danau. Bahkan kajian yang dilakukan terhadap endapannya menunjukkan bahwa daerah ini dahulunya terisi air.

Kapan danau ini mulai kering?

Menurut M.A.C. Dam (1994) the Late Quaternary Evolution of the Bandung Basin: endapan terakhir (termuda) danau Bandung dg absolut dating C-14 berumur 16.000 tahun yang lalu!

Jadi diperkirakan danau bandung mulai mengering sejak 16.000 tahun yang lalu. Sesungguhnya nama tempat atau Toponimi di bandung selatan menunjukkan hal itu. Coba diingat-ingat lagi banyak tempat di Bandung selatan yang kini masih bernama “Ranca” alias rawa.

Bandung Lautan Air, Mengapa bisa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s