Harmoni Bencana Jogja

Bab 2 - BencanaYogyakarta merupakan daerah istimewa yang terletak di pesisir selatan Jawa bagian tengah. Daerah yang terus berkembang cepat. Tak dapat dipungkiri bahwa Kota Yogyakarta sebagai satu-satunya administrasi berstatus kota di DIY kini berkembang menjadi kota-kota besar dan ramai layaknya kota besar lain di Indonesia. Penyebabnya? Jelas adalah pertumbuhan penduduk yang terus bertambah baik disebabkan oleh pertumbuhan alami maupun migrasi.

Daya tarik Yogyakarta- Kota Yogyakarta dan sekitarnya- adalah fasilitas pendidikan dan potensi wisata budaya serta alam yang ada di tempat ini. Karena itulah Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar dan kota budaya yang menjadi tujuan datangnya banyak orang dengan berbagai kepentingan baik wisata, belajar ataupun orang yang datang dengan maksud-maksud lain.

Pendidikan dan Budaya seolah merupakan perpaduan yang serasi dalam membangun Yogyakarta. Budaya kental keraton dan keramahan masyarakat Jogja membentuk iklim kenyamanan dan ketenangan yang dibutuhkan seseorang untuk belajar. Di sisi lain pendidikan yang terus berkembang semakin menguatkan jati diri kebudayaan Yogyakarta.

Dari sanalah kemudian Setidaknya 200-an ribu orang tiap tahunnya datang ke Yogyakarta untuk wisata, juga ribuan lainnya yang datang untuk belajar di PTN dan PTS terbaik yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya. Tak sedikit dari kebanyakan pendatang kemudian menetap dan mencari penghidupan di Yogyakarta.

Ada gula tentu ada semut. Tanah yang subur, iklim yang nyaman, air yang melimpah adalah komponen dari kenyamanan dasar manusia untuk hidup. Komponen inilah yang membentuk sebuah kondisi ideal untuk berkembangnya permukiman dan usaha penghidupan berupa pertanian, peternakan, maupun industri dan perdagangan. Padahal jika dicermati lebih jauh, Tanah yang subur dan berbagai kenyamanan alam tadi adalah cerminan dari masih produktifnya alam di Yogyakarta.

Layaknya Manusia yang masih produktif, masih hidup dinamis dan masih bergejolak. Belum sampai pada masa stabil yang tenang. Begitupun alam di DIY baik dilihat dari sisi Geologis, hidrologis, meteorogis, bahkan antropologis memiliki potensi gejolak berupa bencana yang dapat menimbulkan kerugian bagi manusia yang hidup dan berpenghidupan di sekitarnya.

Berdasarkan BPBD Provinsi DIY ada 12 ancaman bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu; Erupsi gunungapi merapi, angin kencang, gempa, tsunami, abrasi, tanah longsor, banjir, kekeringan, kegagalan teknologi, epidemic, dan konflik social. Ada 12 ancaman yang menjadi ancaman yang berpotensi bencana yang menimbulkan banyak kerugian baik korban jiwa maupun harta benda ataupun kerugian lain berupa berkurangnya fasilitas kenyamanan yang diberikan alam. Tempat yang makmur di banyak tempat juga sering berarti tempat yang juga berkonsekuensi bencana. Kita dapat melihat Jepang, Filipina dan negera lain sebagai contoh lainya.

Bencana sesungguhnya adalah kewajaran yang alami. Ia layaknya batuk, menguap atau buang angin dalam siklus hidup manusia. Hanya karena kita tak mau mempelajarinya dan gagap dalam merespon kemudian kita menyebutnya sebagai bencana.

Tak ada pilihan lain kecuali hidup harmoni dengan alam. Memahami dan mengenali tiap potensi ancaman yang ada. Kemudian mengenali apa yang kita miliki dan mampu untuk lakukan. Dari sana dapat kita lakukan perencanaan penanggulangan bencana yang dapat menggerakkan semua sumberdaya di wilayah. Penanggulangan bencana berarti upaya memahami dan mengenali karakteristik ancaman yang ada di sekitar kita dan kemudian beradaptasi untuk mencegah atau setidaknya mengurangi risiko yang besar akibat bencana tersebut.

Kuncinya adalah perencanaan, perencanaan yang membuat seluruh komponen dan stakeholder bencana siaga dalam menghadai semua kemungkinan. kesiagaan tidak hanya semata dibangun pada level pemerintah, melainkan juga pada level masyarakat. Masyarakat sebagai pihak yang langsung merasakan dampak dari bencana yang terjadi sewajarnya memiliki kemampuan mngurangi risiko bencana dengan mandiri.

PRBBK Sebagai bentuk Harmonisasi Masyarakat dengan Bencana

Seiring dengan keluarnya UU No 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, mulai di geser paradigma penanggulangan bencana. Sebelumnya penanggulangan bencana lebih banyak berfocus pada kegiatan tanggap darurat dan rekonstruksi pasca bencana. Sejak keluarnya UU tersebut penanggulangan bencana beralih ke kegiatan-kegiatan preventif dengan kegiatan-kegiatan Pengurangan Risiko Bencana.

Pengurangan risiko bencana yang sifatnya preventif ini bertujuan untuk menyiapkan semua pihak untuk siap menghadapi bencana dengan dampak seminimal mungkin. Tindakkan pengurangan risiko ini tidak mungkin hanya dilakukan oleh pemerintah yang memiliki tugas menanggulangi bencana semata. Dibutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk institusi pendidikan dan dunia usaha. Terlebih yang paling penting adalah keterlibatan masyarakat sendiri.

Pelibatan masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana inilah yang disebut sebagai PRBBK (Pengurangan Risiko bencana Berbasis Komunitas). PRBBK inilah yang menurut Paripurno, dkk (2009) dianggap sebagai bentuk pengurangan risiko bencana yang paling efisien disebabkan karena penyerapan sumberdaya internal yang maksimum dan penggunaan sumberdaya eksternal yang minimum. PRBBK inilah yang menjamin keberlanjutan karena terpenuhinya beberapa alasan yaitu adanya efektifitas, legitimasi (partisipatif) dan kesetaraan.

Sesungguhnya PRBBK bukanlah hal yang baru mengingat praktek-praktek penanggulangan bencana oleh masyarakat telah sejak lama dilakukan. Bentuk-bentuk penanggulangan bencana berbasis komunitas telah diamati sejak tahun 1994 kepada masyarakat lereng Gunungapi Merapi yang selamat dari erupsi di tahun tersebut. Kemudian setting yang berbeda ditunjukkan oleh masyarakat di NTT dalam menghadapi El-Nino di tahun 1998. Dari sana dapat dikatakan bahwa sesungguhnya PRBBK adalah praktek lama yang dikembangkan kembali dengan bentuk yang lebih sistematis dan terarah.

PRBBK yang dikembangkan di DIY dalam beberpa tahun ini adalah program Desa Tangguh. Program ini merupakan program yang digagas oleh BNPB untuk membentuk desa yang tangguh bencana. Di DIY program ini dilaksanakan di 4 desa dalam 2 tahun terakhir (2012 dan 2013) yaitu Desa Poncosari, Desa Gadingsari, Desa Tirtohargo, dan Desa Gadingharjo. Sebelumnya di tahun 2010 YP2SU bersama dengan UNDP telah melakukan inisiasi kegiatan yang tersebut dengan mengmbangkan desa tangguh bencana di Desa Wonolelo dan Mulyodadi di Kabupaten Bantul.

Desa tangguh bencana didesain untuk membangun ketangguhan masyarakat dalam 3 hal yaitu pengenalan dan analisis kebencanaan, Perencanaan penanggulangan bencana desa, dan implementasi rencana. Melalui 3 proses tersebut diatas masyarakat didorong untuk mengenali bencana di lingkunganya dan merencanakan langkah-langkah penanggulangan yang tepat untuk mengurangi risiko bencana tersebut. Keberhasilan dari setiap proses ini adalah ketika masyarakat secara mandiri telah mampu menghadapi bencana dengan seminimal mungkin mendapat sumberdaya luar desa. Artinya berbagai kebutuhan utama saat terjadi bencana dapat segera dipenuhi oleh internal desa itu sendiri.

Kemandirian dalam kesiagaan bencana adalah bentuk dari mengharmonikan diri dengan bencana. Harmoni artinya berjalan seiring maka harmoni dengan alam berarti mampu memahami alam sebagai sebuah entitas yang saling timbal balik dengan kita. Segala yang kita perbuat terhadap alam akan ada efeknya yang kembali pada kita, baik ataupun buruk. Modernisasi dalam segala aspek kehidupan memungkinkan banyak hal tak mungkin dapat dikerjakan dengan berbagai rekayasa teknologi. Namun semua kembali pada kita, bagaimana menjadikan alam tetap pada gerak harmoninya. Harmoni dengan alam, harmoni dengan bencana. Harmoni dengan bencana berarti Siaga setiap kali bencana akan hadir. Karena bentuk rekayasa dan pembangunan perikehidupan masyrakat telah selaras dengan siklus bencana. Harmoni yang berbuah pada kecilnya risiko yang timbul saat bencana terjadi. Salam Tangguh

Harmoni Bencana Jogja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s