Belajar Dari Gunungapi #2

010303_0926_LetusanGunu1.pngAssalamu’alaykum sobat ke surga masih lupa dengan tulisan sebelum ini? Emang pernah yak ada post Belajar dari Gunung api #1? Kalau masih lupa klik saja di sini. Kalau mau sii, kalau enggak ya ngga papa, ane pastikan ente bakal RUGI ga baca yang pertama. Hikmah itu barang mahal, nggak semua orang bisa mengambil pelajaran, gak semua bisa berubah dari 10 tahun dipapari pengalaman-pengalaman berharga yang sejatinya dia temui setiap waktu. Tetapi ada waktu dimana pengalaman 5 menit bisa mengubah hidup kita sepanjang masa. Itulah mutiara, mutiara yang mesti kita gigit kuat dengan geraham, raih dan jangan lepaskan. Termasuk ayat-ayat yang Allah perlihatkan pada kita lewat ciptaan-ciptaannya yang luar biasa sempurna, entah makhluq, system, keteraturan, cara alam bekerja semua bisa kita jadikan pelajaran.

Bagai dongengan, kali ini ane coba cerita lagi tentang gunungapi. Sebelumnya di posting pertama, neeh gue kasih bocoran buat yang belon baca. Kita diskusi soal kemanfaatan yang diberikan gunungapi dibalik kengerian siklus erupsinya. Sekarang dongengan ane akan coba mengajak antum mengambil hikmah dari dongengan lawas tentang gunungapi. Dongeng ini dimulai dari jreng jreng jrennngg…

Tahun 1669, Weitz ada apa di tahun itu? Siapa tahu? Dapet hadiah dari pengelola blog. Ayo.. 3…2…1… ngga tahu? Oke 1669 adalah tahun dimana Steno mempublikasikan hokum superposisi dalam perlapisan batuan. Yak sekarang kita akan berdiskusi soal Stratigrafi, ilmu yang mempelajari tentang urut-urutan pelapisan batuan atau ilmu yang mempelajari tentang umur relative batuan.

Apa gitu hubbungannya sama gue? Penting gitu? Gue kan Mahasiswa kedokteran? Ups.. sekali lagi hikmahnya kawan, coba kita gali hikmahnya.

Dalam suatu urutan perlapisan batuan, maka lapisan batuan yang terletak di bawah umurnya relatif lebih tua dibanding lapisan diatasnya…..” (Steno, 1669)

Itu menurut hukum  superposisi. Hukum superposisi itu emang jadul, dilogika sama anak SD juga sampe kok apalagi ente, iya kan? Sudah tahu maksudnya? Lha kok malah Tanya kok bisa? Berarti ente gak lebih pinter dari anak SD. Hhe becanda-becanda.

Kira-kira begini ni, Gunungapi Merapi meletus (kayak balon ijo meletus) tahun 1800 an lalu ingat? Kemudian tahun 2010 kemarin meletus lagi. Keduanya mengeluarkan material vulkanik macem-macem, abu, krikil, krakal, sampe batu seukuran rumah ente juga ada. Pertanyaan ane. Material mana yang lebih tua? Material yang keluar tahun 1800 an letaknya diatas apa di bawah material yang keluar di 2010?

Yak tepat material batuan tahun 1800 an lebih tua, dan letaknya di BAWAHNYA..

Pertanyaan ane selanjutnya, Sekarang Merapi kembali tenang, abu vulkan mulai diguyur hujan, material sudah mendingin, tanah bisa ditanami lagi. Tanah yang sekarang ditanami itu produk 2010 atau 1800 an? Tanah yang punya produktivitas tinggi di lereng gunungapi itu hasil erupsi 2010 atau 1800 an.

YOUNG ON TOP

Nah ente yang lahir tahun 90 an lebih tua mana sama bapak-bapak ente yang lahir tahun 60 an? Tak ketak kowe nek ngomomg luwih tuwo kowe. So siapa yang sekarang mestinya terlihat dipermukaan? Siapa yang mestinya sekarang terlihat kemanfaatannya? Siapa yang mestinya sekarang produktif tiada tara? Generasi 60 an? Ya enggak laah?

Pak Soekarno pernah bilang

“Berikan aku 10 Pemuda maka akan kuguncangkan dunia”

kata Hasan al-Banna ‘‘di setiap umat adalah rahasia kebangkitannya; di setiap kebangkitan mereka adalah rahasia kekuatannya; dan di setiap ideologi mereka adalah para pengusung panjinya”.

Betul, sangat betul sungguh umat ini kebanjiran contoh sosok-sosok muda yang luarbiasa.

Mereka mungkin masih sangat muda. Mungkin di bawah usia 40, atau 30, atau 25, tapi perubahan yang mereka ciptakan melebihi abad hidupnya, atau tercatat di memori sejarah bumi ini, atau bahkan terukir di dinding istana langit yang abadi.

 

Usia 24 bagi Muhammad al-Fâtih adalah realisasi mimpi delapan abad umat Islam membebaskan Konstantinopel. Reruntuhan Daulah Umawiyyah kembali berdiri menjulang di Andalus oleh pemuda 25 tahun, Abdurrahman ad-Dâkhil. Dua puluh dua tahun bagi Hârûn ar-Rasyîd adalah awal pemerintahan Dinasti Islam terbesar sepanjang sejarah hingga mencapai puncaknya, Daulah Abbasiyyah di Baghdad.  Sembilan belas tahun bagi Usamah bin Zaid adalah kematangan kepemimpinan untuk mengomandoi pasukan senior sahabat melawan Imperium raksasa Roma. Dan sepuluh tahunnya Ali bin Abi Thâlib adalah kesiapan menjadi dai khusus Islam yang membawa misi super rahasia di awal fase dakwah Mekah. Dan 25 tahun seorang Jenderal Sudirman, dalam sakit parahnya di hutan tetap membakar energi perlawanan di seluruh tanah air hingga melahirkan cikal bakal TNI.

 

Yang jadi soal, setelah baca contoh-contoh tadi ente tambah yakin kalau potensi usia muda itu luar biasa atau malah ente jadi minder? Jangan deh jangan minder, Cuma sebagian anak muda jaman sekarang kok yang mulai tidak peka dengan lingkungannya, Cuma sebagian aja kok yang mulai nggak peduli dengan tujuan dan citanya,

 

Pemuda sekali lagi adalah rahasia kebangkitan kaum ingat pemuda Indonesia yang terlibat penculikkan bung karno dan menghasilkan resolusi kemerdekaan besok juga? Atau ingat Pemuda yang demo di Jakarta dan menghasilkan Era reformasi menggantikan era rezim otoriter Orde Baru?

 

Ane tahu perkaranya, kondisi, ya tuntutan institusi, tap ane yakin banyak kerinduan dengan masa itu, Yuuk bangkit keluar dan tunjukkan bahwa pemuda memang layak berkarya, pemuda memang layak berada di atas.

 

Yup

 Young On TOP

Belajar Dari Gunungapi #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s