Belajar Dari Gunung Api #1

Erupsi

“Dok drodok dok dok.. eeee Bumi gonjang ganjing langit kelap-kelap.. eee Segarane mbludag, Lemahe bengkah, mawane muncrat-muncrat… ambyarr….”

                Sekarang ente ane ajak ke suatu tempat. Pejamkan mata ente, ups ga jadi deng, ente malah ga bisa baca. Watch your step bro, sist, Hati-hati tempat ini ternyata tidak datar, ini agak curam, licin pula. Kiri-kanan ente rumah-rumah yang saling berjauhan.

 “sepertinya penduduknya nggak pada akur ya?”

Bukan-bukan, tiap rumah dibatasi kebun-kebun tanaman keras, kebun jati, sengon, karet. Coba mendangak! Langit bersih bulan sembunyi dibalik cendawan, gemintang tampak ditebar sekenannya dilangit. Ente sudah merasakan suhu disekitar ente dingin?  ternyata ente berada di kaki gunungapi- Ketika sudut dangak pandang ente diturunkan sedikit ente lihat fenomena dahsyat, Statusnya Level IV (awas). Sekarang Apa yang ente lihat?

Ya tulisan atuh kang…”

Betul sekali, Tulisan, sekarang apa yang ente bayangkan? Drrrrrr duarrrr—kemudian lihat di ujung langit sana, kelap-kelip warna merah, Indah bukan? Berarti ente kurang dekat, sini mendekat.

Udah cukup dekat belum? Harusnya yang ente lihat adalah.. Chaos, ente Cuma lihat orang-orang panik berlari ke arah yang sama. Motor, mobil, pick up yang dijejali puluhan orang. Macam kambing yang mau dijual di pasar hewan.  ambulance, pemadam kebakaran, truck, bis, becak, bajaj, semua tumpah ruah di jalan. Sejauh ini ente nggak bisa mendefinisi sebenarnya orang-orang itu bicara apa, ente Cuma dengar orang teriak-teriak, ambulance meraung-raung, anak-anak kecil menagis sejadi-jadinya. Ente kalut, ikut panik ente Cuma bisa berlari karena disekitar ente nggak ada kendaraan yang mau ente tumpangi. Sebenernya ane lihat ente yang bingung tapi bener dah sorry sopir yang bawa lamborgini ane juga kalut, dia babalas deh sorry banget ane duluan bro maappp. Ente Lari menuruni jalan-jalan di kaki gunung yang curam ente tersandung batu. Ente jatuh dan Woyy bangun woy..

Ngeri, sadis, miris, gak tahu ampun. Gunungapi sejauh ane tahu, memang menjadi fenomena yang selalu jadi perhatian di sepanjang sejarah manusia. Postur tubuhnya yang gede, tinggi menjulang, sombong, ndangak ngobrolnya Cuma sama awan-awan tinggi itu, membuat si saudara gunungapi jadi objek yang berpotensi untuk diagung-agungkan. Jangan tanya lagi kalau sedang erupsi, muntahnya api, batuknya wedhus gembel (awan panas: red), ingusnya lumpur lahar dingin. Menerjang semua jiwa, harta benda, pohon, rumah, kandang hewan, mobil, motor, wc umum, ya unstopable. Bahkan wc umum-pun.

Terus? Bukan terus! Jadi? Bukan jadi. Lha njuk? Kok malah Njuk? Ente pernah mikir? Apa orang-orang bingung tadi punya otak. Kalau punya, apa otak mereka sempet dipake? Udah tahu gunung api begitu ngerinya, masih juga nekat bikin rumah di sana. Lagipula fenomena seperti ini kan Cuma jadi fenomena alam biasa, indah lagi, kalau nggak ada orang disekitar sumber bencana itu. Ane ngetes ente lho bukan ngejudge, bisa-bisa ane dimakzulkan kayak om Marzuki Ali lantaran pernah ngeluarin statement macem bginian.

Tapi tunggu bro, yang gak punya otak itu mereka atau ente? Tahu apa ente soal alasan orang-orang berlomba-lomba bikin rumah di kaki gunungapi. Beraktivitas disana, berperikehidupan dan makan dari sana. Tahu apa ente ha?? Jawab!! Ente ga tahu kan? Makanya jangan sok tahu! Pikir otaknya dipake pikir!

“Penulis edan, ngomong dewe dibantah dewe, nyalahke pembaca meneh.”

“Trimo ora? Hha niat maca ora he? Nek ora mending rampung wae resah dilanjut.”

“Tak metu tenan lho iki..”

Sabar maaf bro ane kebawa emosi. Hhhhffff fuuu, tarik nafas sek. Oke dilanjut ya bro pis love. Coba ente lihat datanya [berapa juta ] orang hidup di lereng gunung Merapi. Kemudian [ berapa banyak] orang hidup di lereng gunung sumbing. Lihat juga berapa ratus ribu orang hidup di punggung gunung tambora. Lihat juga penduduk di gunung semeru. Atau orang-orang yang tingal di negeri seribu kawah Dieng, Gunungapi aktif yang lain. Banyak ratusan, ribuan, jutaan, lebih. Bukan tanpa alasan mereka ada disana. Bukan sekedar termarginalkan karena ga kuat beli tanah dikota. Bukan juga sekedar mau cari sensasi kayak kuda lumping, atau debus, extreme life under the risks of volcano hazard.

“Orang yang hidup untuk dirinya sendiri akan hidup dan mati sebagai orang yang kerdil. Tetapi yang hidup bagi orang lain akan hidup dan mati sebagai orang BESAR”

Kunci mengapa gunungapi angkuh itu dicintai banyak orang. Volcano arrogan itu dikerubuti macem artis. Makluk gede menjulang itu seperti gula dirubung semut adalah karena gunungapi hidup dan beraktivitas bukan untuk dirinya sendiri. Ia hidup dan beraktivitas untuk memberi kemanfaatan bagi sekitarnya. Untuk orang lain.

Ente tahu apa yang terjadi dengan tanah yang ditimbuni bekuan lava, kerikil, bongkah, debu, lumpur apapun material vulkanis? Ente tahu apa yang terisi di alur-alur lembah yang berhulu di mulut sumber erupsi gunungapi? Atau ente tahu betapa mudahnya air muncrat-muncrat digelontor dari mata air di punggung merapi, betapa bersihnya, segarnya? Ente kudu tahu.

Sesaat setelah material vulkan beku dan dingin, tanah-tanah yang sudah mulai jenuh, mulai aus, mulai tua, mulai encok udah gak kuat lagi ditanemi. Digantikan unsur-unsur mineralnya. Diremajakan kembali. Menjadi subur kembali, siap untuk ditanami dan berproduksi besar kembali. Ketika Hujan, bentuk gunungapi yang menegrucut membantu menyebarkan kandungan mineral ke dataran-dataran aluviall di sekitar gunungapi. Sehingga mineral tanah yang dibutuhkan tumbuhan dibagi tidak rakus dimakan sendiri. Sehingga kemanfaatannya bisa dirasakan bagi wilayah lain. Menyuburkan sawah-sawah di dataran sekitarnya.

Tahu kualitas tanaman yang tumbuh disana? Tanyakan pada petani sayur di kaki merbabu. Atau para petani kentang di dataran tinggi Dieng. Tanyakan juga para petani di lereng Merapi. Atau peternak sapi perah di kaki-kaki gunungapi lain. Kualitas tinggi dengan produktivitas terjaga.

Ente gak punya tanah? Ga bisa menanam padi, salak atau kebun karet apalagi jati dan sengon? Ente masih bisa sewa truk nambangi pasir di lembah-lembah sungai. Dibawa turun ke kota buat ngurugi negara ciut macem singapura biar tanahnya tambah luas bisa serobot milik tetangga. Atau buat dujual ke orang kaya, ngurug rawa biar bisa bikin rumah tingkat 5 nggak kebanjiran waktu musim hujan tiba, banjirnya dipindah ke rumah orang yang kagak punya. Miris yang ini ngga usah diacuhkan. Ini Pasir kualitas kelas wahid buat bikin bangunan tahan gempa. Bikin masjid, panti asuhan, lembaga amal. Bukanya itu manfaat luar biasa?

Jangan lupa tanyakan juga soal air ke penduduk sekitar gunungapi. Badanya yang gede tinggi adalah tangkapan hujan. Air yang ditangkap kemudian disimpan di jauh bawah tanahnya. Di suatu tempat aquifer namanya. Kualitas terbaik karena dasar batuannya adalah batuan beku gunungapu. Aquifer tempat menyimpan air itu hanya menampung air seperlunya. lebihnya? Lagi-lagi disalurkan, diberikan pada yang berhak di daerah bawahnya. Menghidupi orang-orang sampai ke muara. Elok bukan?

Lagi Berapa banyak duit yang bisa ngalir lewat indahnya pemandangan gunungapi atau hawa sejuknya atau eksotis jejak-jejak erupsinya. Jadilah Potensi wisata. Orang-orang kota yang hidupnya dijerat maut rutinitas sering naik untuk sekedar menghirup udara bebas, tertawa lega, ata sekedarcuci muka dari mau ngerasain mata airnya.

“Orang yang hidup untuk dirinya sendiri akan hidup dan mati sebagai orang yang kerdil. Tetapi yang hidup bagi orang lain akan hidup dan mati sebagai orang BESAR”

Jadilah besar seperti gunung api yang memberi manfaat bagi orang lain, itu! –-

Belajar Dari Gunung Api #1

Satu pemikiran pada “Belajar Dari Gunung Api #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s