Awan Panas dalam video

Awan Panas

Wedhus Gembel kini menjadi sesuatu yang begitu masyur di telinga orang Indonesia. Awan panas yang bergumpal-gumpal membentuk seperti bulu domba menjadi begitu sangar dengan kembali bergemuruhnya Gunung teraktif di dunia Merapi.

Awan panas adalah karakteristik dari letusan merapi. Nuees Ardante adalah bahasa aslinya, atau dalam bahasa inggrisnya lebih dkikenal sebagai pyroclastic flow. Inilah yang harus diluruskan dalam bahasa Indonesia telah menjamur bahasa awan panas. Padahal Pyro=api clastic=fragmen hasil pecahan batuan flow:aliran. Jadi agaknya leebih tepat kalau disebut aliran material pijar.Selanjutnya saya pake istilah aliran piroklastik saja ya.

Aliran piroklastik ini tersusun atas material-material Merapi. Kontentnya ya fragmen-fragmen berukuran dari debu, pasir krikli sampe krakal bercampur gas berpijar. terjadi akibat runtuhan tiang / kolom asap erupsi plinian, letusan langsung ke satu arah, atau guguran kubah lava / lidah lava. Sebaran aliran piroklastik  menuruni lereng dikontrol oleh gravitasi dan  mengalir melalui daerah rendah atau lembah.

Kenapa berbahaya?

Seperti dilansir dari Geology.com,
Abu vulkanik terdiri dari partikel yang bentuknya tidak teratur, tajam dan bergerigi. Dengan kombinasi dan bentuk yang tidak teratur itu membuat abu vulkanik bersifat sangat menghancurkan.

Abu Vulkan sejatinya adalah bekuan dari mineral-mineral cair pijar yang dikeluarkan dari dalam perut bumi. Karena membeku di luar perut bumi demana suhu mendadak berubah drastis pendinginan berlangsung cepat sehingga tidak sempat mengkristal sempurna. Dibawah merupakan gambaran abu vulkanik dari microscop

Kristal Abu Vulkan dilihat dengan Microskop
Kristal Abu Vulkan dilihat dengan Microskop-dongeng geologi

 

Abu vulkanik mengandung silika yang dapat menyebabkan penyakit yang disebut silikosis, yaitu penyakit saluran pernafasan akibat menghirup debu silika, yang menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru.
Risiko lain adalah mengalami gatal-gatal, kulit memerah dan iritasi akibat debu yang ada di udara dan menempel di kulit. Kondisi ini bisa juga diakibatkan oleh kualitas air yang sudah tercemar abu vulkanik.
Debu vulkanik yg terbang tertiup angin yang dikenal dengan hujan abu tersebut menurut Dr. Sunarto, Kepala Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada, mengandung partikel SiO2 atau kuarsa. Kuarsa adalah mineral yang dikenal sebagai bahan baku utama membuat kaca. Mineral ini memiliki kekerasan 7 (Skala Mohs) atau tergolong sangat keras.
Kalau masuk ke mata dan kemudian diucek-ucek maka mata yang tersebut dapat memunculkan luka atau iritasi yang kemudian bisa memicu gangguan kesehatan mata. Jadi kalau terpapar abu/debu vulkanik sebaiknya jangan di-ucek-ucek tetapi langsung dibersihkan dengan air bersih.
Selain berefek negatif pada mata, debu vulkanik juga menimbulkan gangguan saluran pernapasan atas yang memicu munculnya penyakit ISPA.

Berikut video yang menunjukkan bagaimana pergerakkan dari awan panas

Material dengan berbagai ukuran tadi meluncur kebawah dan material yang ringan tersuspensi dan bergerak dengan cara mengapung.

Ketika magma kental, mengandung banyak gas yang keluar dari kepundan, namun karena memiliki tekanan cukup rendah, akan membentuk kenampakan seperti awan  yang berisi batu, kerikil, pasir serta abu dan batu apung dapat terlempar ke udara. Awan panas ini akan turun meluncur seperti avalanche sebelum dapat akhirnya mendinginkan. avalanche ini disebut nuee ardente.

Sedangkan dibawahnya dampak setelah diterjang oleh Awan Panas Merapi ini Oktober 2010 ini.

Jelas desa kinahrejo yang porak-poranda sekarang dapat dibayangkan. Bukan hanya diterjang oleh material abu apalagi awan yang bayangan kita tentu hanya berupa gas. Material yang menerjang berupa piroklastik yang massanya mungkin berton-ton.

Masih membayangkan Wedus gembel sebagai gas??

Awan Panas dalam video

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s