Hujan Lebat, Angin Putting beliung, Hujan es

Pada dasarnya ketiga fenomena diatas terjadi karena aktivitas awan bersel tunggal dan berlapis-lapis yang pertumbuhannya secara vertical dengan luasan horizontalnya sekitar 3-5 Km, yang biasa disebut sebagai awan cumulonimbus (CB). Awan ini paras atasnya melewati freezing level (ketinggian dimana suhu udara 00 C atau sekitar 4,5 Km diatas paras laut di wilayah Indonesia).

Fenoma cuaca seperti hujan es, angin kencang yang dikategorikan angin putting beliung/leysus/angin puyuh serta issu Badai menerjang kawasan Indonseia, fenomena cuaca tersebut sebenarnya bukan fenomena cuaca yang baru terjadi atau fenomena cuaca yang aneh, karena fenomena ini biasa terjadi di Indonesia. Beberapa tahun lalu di Jakarta Pusat pernah dihebohkan dengan adanya angin kencang dapat menghempaskan pesawat helikoper, jadi fenomena ini sudah pernah terjadi, hanya kejadiannya mempunyai frekuensi yang jarang.

Sementara hujan lebat atau deras yang biasa terjadi setiap tahun sebenarnya fenomena cuaca yang umum terjadi, bahkan dari tahun ketahun hujan lebat selalu ada, apakah disaat musim penghujan, musim peralihan sekalipun dimusim kemarau, ringkasnya hujan lebat tidak mempunyai siklus teratur, kesemuanya itu tergantung sirkulasi udara yang sedang terjadi, wallahu alam !

Angin Putting beliung adalah angin kencang, tapi angin kencang belum tentu dikatakan angin putting beliung, tergantung kecepatan angin yang menyertainya, angin putting beliung kejadiannya singkat antara 3- 5 menit setelah itu diikuti angin kencang yang berangsur-angsur keceptannya melemah, sedangkan angin kencang dapat berlangsung lebih dari 30 menit bahkan bisa lebih dari satu hari dengan kecepatan rata-rata 20 – 30 knot, sementara puting beliung biasa kecepatannya dapat mencapai 40 – 50 km/jam atau lebih dengan durasi yang sangat singkat dan tidak sama dengan fenomena Badai yang sering melanda di negara Amerika, Australia, filipina, Jepang, Kore maupun China.

Fenomen ini biasanya terjadi pada saat musim peralihan atau pada saat cuaca/hujan di musim hujan yang hujannya masih banyak terjadi pada siang atau malam hari, karena memang fenomenanya selalu terjadi setelah lepas pukul 13.00 – 17.00 namun demikian tidak mentup kemungkinan dapat terjadi pada malam hari.

Fenomena-fenomena ini seperti dikatakan sebelumnya terjadi karena aktivitas cumulonimbus. Awan cumulonimbus sendiri bias terbentuk jika kondisi atmosfer mendukung perkembangan awan ini yaitu:

  1. Udara lembab dalam lapisan yang tebal sekitar 3,0 km atau lebih
  2. Perawanan pada pagi hari sedikit artinya ada insolasi (pemanasan oleh matahari) yang memanasi permukaan tanah dan udara didekatnya
  3. Atmosfer tidak stabil secara konvektif

Indonesia sebagai wilayah yang berada pada ICTZ memiliki kondisi udara yang memungkinkan untuk terjadinya awan ini. ICTZ menyebabkan konveksi aktif udara yang kemudian membentuk awan cumulus. Awan ini terus tumbuh secara vertical karena adanya arus updraft (arus udara keatas) yang sangat kuat. Ketika puncak awan telah mencapai freezing level terbentuklah butir-butir es yang kemudian dapat berkembang sebagai hail (hujan es). Pada lapisan troposfer paras bawah rata-rata sekitar 270 C tetapi pada puncak awan cumulonimbus suhu bias mencapai -850 C.

Hail

Hail terbentuk bila partikel es atau butir air hujan yang membeku tumbuh dengan menyerap butir-butir awan kelewat dingin. Awan CB mengandung partikel es dan butir air besar. Hujan es di daerah tropis, akan terjadi bila batu es yang turun bersifat kering dan memiliki ukuran yang cukup besar saat keluar dari dasar awan. Hal ini mengingat batu es yang jatuh akan menyusut ukurannya karena kontak dengan suhu udara permukaan yang cukup tinggi. Dengan ukuran yang besar es yang sampai ke permukaan masih bias mempertahankan bentuknya dengan ukuran sekitar 3 mm.

Secara singkat pembentukan butir es dapat dijabarkan sebagai berikut: uap air di udara akibat pemanasan permukaan berkondensasi atau mengembun menjadi awan. Di dalam awan CB, udara masih naik keatas akibat updraft sehingga membentuk puncak yang mencapai freezing level. Pada level itulah es terbentuk.

Sama dengan pembentukan tetes air, pembentukan butiran es juga didahului oleh adanya inti kondensasi (tempat melekatnya uap air sehingga dapat terjadi pengembunan. Inti kondensasi dapat berupa debu atau molekul garam-garaman. Butir esterjadi jika awan sudah mengandung tetes air sangat dingin. Jika butir es terbentuk maka ia dapat mengikat tetes air lain sehingga butiran semakin besar dan akhirnya jatuh karena tidak datat tertahan arus udara keatas di dalam awan.

Bagaimana mengetahui adanya hujan es/angin puting beliung ?

Karena sifatnya yang lokal , luasannya kurang dari 10 km maupun durasinya yang sangat singat maka jika kita menggunakan model cuaca dengan grib 0,75 derajat (82,5 km), maka mempunyai perbandingan 1 : 8, kecuali kita mempunyai meso scal dengan domain yang sangat kecil kurang lebih 10 km, namun demikian fenomena tersebut sangat perlu diketahuia oleh kita yang ada diluar rumah, seperti :

–          lebih sering terjadi pada peralihan musim kemarau ke musim hujan

–          lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, tapi terkadang pada malam hari

–          satu hari sebelumnya udara pada malam hari- pagi hari udaranya panas/pengap/sumu’

–          sekitar pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan cumulus (awan berlapis-lapis), diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol

–          tahap berikutnya adalah awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi hitam gelap

–          perhatikan pepohonan disekitar tempat kita berdiri, apakah ada dahan atau ranting yang sudah bergoyang cepat, jika ada maka hujan dan angin kencang sudah akan datang

–          terasa ada sentuhan udara dingin disekitar tempat kita berdiri

–          biasanya hujan pertama kali turun adalah hujan tiba-tiba dengan deras, apabila hujan nya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari lingkungan kita berdiri

–          Terdengar sambaran petir yang cukup keras, apabila indikator tersebut dirasakan oleh kita maka ada kemungkinan hujan lebat+petir dan angin kencang akan terjadi

Jika 1 atau 3 hari berturut –turut tidak ada hujan pada musim penghujan, maka ada kemungkinan hujan deras yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun tidak.

Hujan Lebat, Angin Putting beliung, Hujan es

Satu pemikiran pada “Hujan Lebat, Angin Putting beliung, Hujan es

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s