Catatan Gempa Sumbar

gempa-sumbarLama tak menyapa anda melalui catatan. Sejak beberapa catatan saya sebelumnya, saya mencoba untuk tidak mentagg seorang pun (rekane sok populer, sapa ngerti akeh sing maca). Ternyata sepi tak ada barang satu komen pun di catatan saya, terlebih mungkin memang gak ada yang baca sama sekali.

Catatan ini sebenarnya sudah sejak beberapa hari lalu tertulis, namun baru sempat saya publikasikan hari ini. Tetapi selayaknya tulisan ini masih bisa dikatakan hangat sampai sekarang.

Kalau temen teman ingat, orang yang berada pada latar belakang yang berbeda akan memberikan respon minimal pikiran dan sudut pandang yang berbeda pada sebuah fenomena yang terjadi. Tentang gempa 7,6 skala richter yang mengguncang Sumbar beberapa hari lalu. Mungkin teman-eman yang sekarang bergulat ddi dunia kesehatan akan segera memmberikan respon fikir bagaimana korban diselamatkan, dirawat, hingga memperoleh kesehatan yang layak. Buat teman-teman yang bergulat di teknik sipil, mungkin akan segera berfikir tentang bagaiana konstruksi bangunan yang tahan gempa. Dll, dan inilah respon dari seorang geograph (hhha) Sekedar ikut-ikutan para pakar yang komentar tentang gempa di Sumatra barat Rabu, 30 September 2009 lalu. Hitung-hitung sekalian bikin catatan kuliah Pengantar Geologi.

Hari itu Agak unik buat saya dan teman-teman di Fakultas Geografi UGM yang mengambil mata kuliah pengantar geologi/geologi umum. Hari itu pukul 7.00 baru saja mereka selama  4 jam menerima berbagai uraian tentang teori lempeng tektonik, sore harinya kita langsung diberikan contoh nyata, sebuah manifestasi dari pelepasan energi yang tidak bisa ditahan oleh bumi dan dilepaskan dalam bentuk gelombang yang mengguncang Sumatra barat.

Mau tidak mau, suka tidak suka inilah Indonesia. Kalau teman-teman lihat di peta persebaran lempeng kerak bumi, indonesia (miris saya melihatnya) benar-benar berada di tepian tenggara lempeng eurasia. Langsung berbatasan dengan lempeng India-Australia di sebelah selatan dan lempeng filipina di sebelah barat daya. Bahkan boleh dibilang bidang kontak ( batas konvergen) pertemuan Lempeng benua Eurasia dengan lempeng samudra di Lempeng India –australia berada di Indonesia. Bisa anda lihat dan kalau anda ingat prisma akresi yang merupakan sedimentasi campuran antara 2 lempeng yang tidak ikut masuk zona subduksi dan terakumulasi bahkan sampai ke permukaan, kini menjadi pulau yang disebut pulau nias, mentawai yang secara administratif sebagai bagian dari NKRI. Teorinya juga berkata bahwa bentukan dari batas konvergen dari pertemuan lempeng samudra dan benua akan membentuk busur gunung api. Tuh lihat aja sepanjang sumatra-NTT entah berapa banyak gunung api yang tersebar paralel dengan zona subduksi di sebelah selatannya.

Bicara lagi soal padang, belum lama saya mendengar daerah itu dilanda tanah longsor, banjir, gempa. Sudah lagi harus digoyang dengan gempa yang berkekuatan dahsyatyang bahkan getaran nyaris sampai jarak 500 Km.  Gempa bukanlah bencana seperti banjir, tanah longsor, dan bencana akibat  aktivitas manusia dalam mengelola sumber daya dan lingkungan yang tidak berwawasan pembangunan berkelanjutan. Ketika memang dia akan terjadi, maka akan terjadi begitu saja, belum bisa kita memperkirakan kapan dan dimana gempa akan terjadi. Walaupun pergerakan tanah bisa dipelajari dan dihitung, tetap saja kita tidak mengetahui kekuatan yang ada dan kapan energi dari pergerakan itu terlepas akibat tak mampu lagi ditahan oleh bumi. Kekuatan melepas, kekuatan batuan tidaklah seperti unsur kima yang berulang secara periodik, tidak seperti gerak harmonik pada bandul, sehingga sulit untuk memprediksi kapan akan patah.

Dengan fakta bahwa indonesia berada pada ring of fire, dimana gempa adalah suatu keniscayaan (berat) yang ada, padahal belum bisa kita meramalkan kapan dan dimana tepatnya akan terjadi. Selama september ini saja tercatat di KR (aku langganan) 4 kali gempa mengguncang Indonesia. Belum hilang dari ingatan kita gempa tasikmalaya pada 2 september lalu yang berkekuatan 7,3 skala richter. Sepekan kemudian 7 september disusul gempa di jogjakarta yang dikatakan berkekuatan 6,8 skala richter. Setelah itu diikuti dengan gempa bumi di bali-lombok pada 19 september. Terkahir di padang kemarin rabu. Sekilas nampak fenomena saling picu antara gempa bumi satu dan yang lain. Ketika satu segmen lempeng berada dalam satu usaha ke posisi seimbang diganggu oleh guncangan di segmen lain sehingga gempa terjadi berurutan pada saat yang  relatif tidak lama.

Maka sudah selayaknya kita bersahabat dengan gempa. Artinya kita sudah siap ketika sang sahabat akan datang mengunjungi kita. Manifestasinya? Bisa berupa bangunan yang harmonis dengan gempa (tahan goncangan), kasiapan dalam hal mitigasi (apa yang harus kita lakukan dan kemana harus berlindung), kesiapan dalam hal pengetahuan tentang kegempaan yang seharusnya bisa mengurangi resiko bencana. Buat mahasiswa teknik yang sering berhubungan dengan saya Oke-oke saya mengakuinya ini bukan kesalahan teknik tapi kesalahan geografi. Tapi sapa yang suruh anda tinggal di Bumi wkwkwk. Ora mas guyon-guyon. T_T pingin deh segera ikut berkiprah dan berkontribusi dalam  serentetan fenomena alam yang terus terjadi secara beruntun di tanah air tercinta ini. Tapi apa daya yang bisa kulakukan saat ini baru menyalin peta sebagian kota amsterdam, yatoya?? heheh wis da garap laporan durung???

Catatan Gempa Sumbar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s